Sistem pendidikan di Indonesia
Sistem pendidikan? Apa sih artinya?
Pengertian
Sistem Pendidikan à Kata
sistem itu berasal dari bahasa Yunani yaitu systema yang berarti “cara,
strategi”. Dalam bahasa Inggris system berarti “system, susunan, jaringan, cara”.
System juga diartikan “suatu strategi, cara berpikir atau model berpikir”.
Definisi tradisional menyatakan bahwa system adalah seperangkat komponen atau
unsur-unsur yang saling berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan.
Definisi
Sistem Pendidikan menurut para ahli
1.
Immegart à system
adalah suatu keseluruhan yang memiliki bagian-bagian yang tersusun secara
sistematis, bagian-bagian itu terelasi antara satu dengan yang lain, serta
peduli terhadap kontek lingkungannya.
2.
Roger A Kanfman à system
dengan suatu totalitas yang tersusun dari bagian-bagian yang bekerja secara
sendiri-sendiri atau bekerja bersama-sama untuk mencapai hasil atau tujuan yang
diinginkan berdasarkan kebutuhan.
3.
Zahara Idris à bahwa
system adalah suatu kesatuan yang terdiri atas komponen-komponen atau
element-element, atau unsur-unsur sebagai sumber-sumber yang mempunyai hubungan
fungsional yang teratur untuk mencapai suatu hasil.
Sedangkan Pendidikan bisa di
artikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan proses pembelajaran
dan suasana belajar agar para pelajar di didik secara aktif dalam mengembangkan
potensi dirinya yang diperlukan untuk dirinya dan masyarakat.
Pendidikan pada hakikatnya
merupakan suatu kegiatan yang secara sadar dan disengaja serta penuh tanggung
jawab yang dilakukan orang dewasa kepada anak sehingga timbul interaksi dari
keduanya agar anak tersebut mencapai kedewasaan.
Jadi berdasarkan pernyataan
diatas, dapat kita simpulkan bahwa Sistem
Pendidikan adalah suatu system yang terdiri dari komponen-komponen yang ada
dalam proses pendidikan, dimana antara satu komponen dengan komponen yang
lainnya saling berhubungan dan berinteraksi untuk mencapai tujuan pendidikan.
v Sistem pendidikan di Indonesia saat ini.
Pendidikan
Indonesia saat ini selalu gembar-gembir tentang kurikulum baru yang katanya
lebih bagus, lebih tepat sasaran, lebih kebarat-baratan atau apapun. Yang
jelas, Menteri Pendidikan berusaha eksis dengan mengujicobakan formula
pendidikan baru dengan mengubah kurikulum menjadi kurikulum 2013.
Agak
miris melihat kondisi saat ini. Institusi pendidikan tidak ubahnya seperti
pencetak mesin ijazah. Agar laku, sebagian memberikan iming-iming lulus cepat,
status disetarakan, dapat ijazah, absen longgar dan lain-lain. Apa yang bisa
diharapkan dari pendidikan kering idealisme seperti itu? Ki Hajar Dewantara
mungkin bisa menangis melihat kondisi pendidikan saat ini. Bukan lagi bertujuan
“mencerdaskan kehidupan bangsa” (seperti yang masih tertulis di UUD 45), tapi
lebih mirip mesin usang yang mengeluarkan produk yang sulit diandalkan
kualitasnya.
Pendidikan
lebih diarahkan pada menyiapkan tenaga kerja "buruh" saat ini.
Apalagi dengan pengoptimalan pada SMK. Bukan lagi pemikir-pemikir handal yang
siap menganalisa kondisi. Karena pola pikir "buruh"lah, segala macam
hapalan dijajalkan kepada anak murid. Dan semuanya hanya demi satu kata:
IJAZAH! Ijazah yang diperlukan untuk mencari pekerjaan. Sangat minim idealisme
untuk mengubah kondisi bangsa yang terpecah belah ini, sangat minim untuk
mengajarkan filosofi kehidupan, dan sangat minim pula dalam mengajarkan moral.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar